Laman

Jumat, 08 Juni 2012

Ngangsu Kaweruh (Menuntut Ilmu)

Nger bocah bagus...
Sepiro duwurmu ngudi kaweruh...
Sepiro jeromu ngangsu ilmu...
Sepiro akehe guru ngajimu...
Tembe mburine bakal ketemu marang sejatine pribadi iro dhewe.
Sopo sing wis biso nemok'ake sedulur batine...
kakang kawah adi ari-ari, papat kiblat lima pancer... yoiku guru sejatimu.


Kamis, 07 Juni 2012

Harapan Orang Tua Kepada Anakny Di Usia Senja

Anakku…
ketika aku semakin tua, aku berharap kamu memahami dan memiliki kesabaran untukku. Suatu ketika aku memecahkan piring, atau menumpahkan sup diatas meja, karena penglihatanku berkurang, aku harap kamu tidak memarahiku.
Orang tua itu sensitif…
Selalu merasa bersalah saat kamu berteriak. Ketika pendengaranku semakin memburuk dan aku tidak bisa mendengar apa ayang kamu katakan, aku harap kamu tidak mengataiku ‘Tuli!’. Mohon ulangi apa yang kamu katakan atau menuliskannya.
Maaf anakku, aku semakin tua…
Ketika lututku mulai lemah, aku harap kamu memiliki kesabaran untuk membantuku bangun sebagaimana aku selalu membantu kamu saat kamu masih kecil, untuk belajar berjalan. Aku mohon, jangan bosan denganku ketika aku terus mengulangi apa yang ku katakan, walau seperti kaset rusak, aku harap kamu terus mendengarkan aku, tolong jangan mengejekku, atau bosan mendengarkanku. Apakah kamu ingat ketika masih kecil dan kamu ingin sebuah balon?, kamu mengulangi apa yang kamu mau berulang-ulang, sampai kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan.
Dan jika kamu memiliki waktu luang, aku harap kita bisa berbicara untuk beberapa menit. Aku selalu sendiri sepanjang waktu dan tidak memiliki seorang pun untuk diajak bicara. Aku tahu kamu sibuk dengan pekerjaan. Apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil?, aku selalu mendengarkan apapun yang kamu ceritakan tentang mainanmu.
Ketika saatnya tiba…
Dan aku hanya bisa terbaring, sakit dan sakit, aku harap kamu memiliki kesabaran untuk merawatku. Maaf kalau aku sengaja mengompol atau membuat berantakan, aku harap kamu memiliki kesabaran untuk merawatku selama beberapa saat terakhir dalam hidupku. Aku mungkin tidak akan bertahan lebih lama. Ketika waktu kematianku datang, aku harap kamu memegang tanganku dan memberikanku kekuatan untuk menghadapi kematian. Jangan khawatir, ketika aku bertemu dengan Sang Pencipta, aku akan berbisik pada-Nya untuk selalu memberikan berkah padamu, karena kamu mencintai ibu dan ayahmu.
Terima kasih atas segala perhatianmu nak, kami mencintaimu dengan kasih yang berlimpah.

Rumahku Surgaku

Rumahku, sesederhana apapun adalah tempat yang paling aman dan nyaman. Di dalam rumah, benih kasih sayang ditanam untuk kemudian dipupuk dan rawat bersama-sama hingga berbuah keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah…
Ke manapun kita pergi, pada akhirnya ingin kembali pulang ke rumah, karena di sini, di rumah ini, buah cinta menanti tuk dituai.
Akhirnya, mari kita terangi rumah kita agar tak gelap laksana kuburan dengan sering membaca Al-Qur’an dan melaksanakan shalat di dalamnya… ya, di rumah kita.
Buatlah keputusan dengan kata hati.
Nikmatilah kehidupan dengan rasa syukur.
Hadapilah persoalan dengan keikhlasan.
Jadikan kejujuran dan kesabaran sebagai pegangan untuk berpijak.
Lewati hari dengan senyum terindah.
Tak ada yang abadi, semua hanyalah ilusi
Tak ada yang sempurna, jadikanlah apa adanya diri kita.

Mutiara Keluarga

Wahai anakku! Penuhilah kebutuhanmu kelak dengan usaha mencari rezeki yang halal. Karena sesungguhnya orang yang membutuhkan sesuatu (berada dalam kondisi miskin) biasanya akan tertimpa tiga masalah, yaitu dangkal pengetahuan agamanya, lemah akalnya, dan hilang harga diri (rasa malu) nya.
Wahai anakku, dunia ini lautan dan iman adalah perahunya, ketaatan itu dayungnya dan akhirat adalah pantainya.
 
Raisya Pramesti Akmalia Shifa

Rabu, 06 Juni 2012

Mutiara Keluarga

“Ngger, bocah bagus anaku lanang…ojo wedi golek’o pepadhange dalan…
Ora kendhat anggonku ngengudhang… duh bocah bagus anaku lanang…
Wong tuwomu dudu koyo royo… sing tak wariske dudu bondho donyo…
Sangumu mung isi pitutur.. muga dadi titah kang luhur…

Anakku lanang bagusing ati…
Ojo lali anggonmu memuji marang gusti kang murbeng dumadi…
Muga dadi padhange ati…
Urip ing donyo iku sedhelo… urip ing kono koyo samudro…

Mulo yo ngger… ojo wegah podho tetanen…
Ing kono mbesuk’e bakal panen…

Puncak Dari Perasaan Cinta Adalah Cinta Kepada Allah

Bersama kita kayuh dayung biduk kecil yang sederhana namun punuh cinta…
Banyak sudah kita lalui bersama baik suka dan duka…
Tak sedikitpun rasa cinta kita berkurang…
Semoga Allah SWT selalu menjaga rasa ini agar tetap tumbuh bersemi sampai kapan pun jua…
Semoga keluarga kita menjadi keluarga yang sakinah , mawaddah wa rahmah...